Jika Terjadi Perang, Apakah Rusia akan membantu Amerika untuk melawan Tiongkok ?


0 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini



  Yes    Muslim    - Sejak Xi menjabat jadi presiden di tahun 2013 lalu, so far Russia menjadi negara yg paling sering ia kunjungi:

- 2013 (2x)
- 2014 (1x)
- 2015 (2x)
- 2016 (absen)
- 2017 (1x)
- 2018 (1x)
- 2019 (1x)


Sedangkan selama 2 periode Putin sbg presiden (2000 - 2008 & 2012 - now), ia sudah mengunjungi China sebanyak 14 kali.
Frekuensinya semakin intens ketika Xi menjabat jadi presiden.

Kunjungan mereka satu sama lain tentu saja membahas kolaborasi di berbagai bidang, terutama megaproyek yg diharapkan mampu mendorong perekonomian negara-negara sekitar yg turut menyambut tawaran kerja sama ini dengan tangan terbuka.
Contohnya proyek rel kereta Belt & Road Initiative (BRI) yg diprakarsai China tentu akan menjadi jalur perdagangan yg menguntungkan kedua negara.
Bagi Russia, BRI pun turut memberi dampak positif utk economic union (perserikatan ekonomi) besutan Russia, Kazakhstan, dan Belarus di 2014 lalu yg bernama EAEU (Eurasian Economic Union).
EAEU mengupayakan pergerakan bebas barang, jasa, serta memberikan kebijakan umum dalam bidang ekonomi makro; transportasi; industri dan agrikultur; energi; perdagangan dan investasi luar negeri; bea cukai; regulasi teknis; regulasi persaingan dan anti-monopoli.
Visi utamanya adalah penggunaan mata uang tunggal dan terintegrasi yg sangat diharapkan di masa depan nanti.
(Proyeksi peta jalur BRI bila complete nanti)

Des 2019 lalu Russia & China melakukan kerja sama membangun Power of Siberia, yaitu proyek pipa gas alam sepanjang 3.968 km yg menghubungkan daratan Russia dan timur laut China.
Jika complete di 2024 nanti, pipa ini akan membawa 61 miliar kubik gas alam in maximum discharge.
Ditambah lagi di thn 2014 lalu, 2 company gas raksasa milik masing-masing negara, Gazprom dan China National Petroleum Corp telah menandatangani kerja sama selama 30 thn ke depan yg bernilai US$400 miliar.
1 hal yg paling menarik dr mega project ini:
US Dollar is absent!
Power of Siberia (Infografis proyek dari official website Gazprom)
(Video conference Putin dan Xi menyaksikan upacara pembukaan pipa gas alam Russia - China rute timur)
(Rute pipa Power of Siberia yg warna orange)
"China and Russia turn on gas pipeline ‘Power of Siberia’ as they forge stronger energy ties"

Ga cuma sampai di situ aja, kedua negara dengan luas wilayah terbesar di Bumi ini juga punya peranan penting dalam pembangunan skala global. Mereka berada di jajaran teratas 2 lembaga keuangan multilateral yg menyediakan dana pinjaman antar negara anggota, yaitu Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dan New Development Bank (NDB).
NDB sebelumnya bernama BRICS Development Bank.
Sesuai namanya, BRICS adalah singkatan dari 5 negara pendirinya (Brazil, Russia, India, China, dan South Africa).
Lembaga finansial yg berbasis di Shanghai ini diciptakan khusus untuk investasi 5 negara tsb, guna memperluas pinjamannya ke berbagai negara di Afrika meski bukan anggota BRICS.
Bisa dibilang NDB/BRICS didirikan atas dasar ketidakpuasan kelima negara tsb atas kebijakan IMF. Akan tetapi NDB harus menemukan solusi dari masalah yang dihadapi masing-masing negara terlebih dahulu.
Mengingat insiden yg baru-baru ini terjadi:
- Brazil menjadi salah satu negara terburuk dalam penanganan outbreak Covid-19.
- Ketegangan antara militer India dan China di perbatasan Kashmir.
Nampaknya progress NDB hanya akan "berjalan di tempat" aja dalam beberapa waktu ke depan.
(5 petinggi negara anggota NDB menyempatkan informal meeting saat G20 Osaka Summit 2019 lalu)
AIIB yg dibentuk awal thn 2016 lalu bertujuan mendukung pembangunan infrastruktur di kawasan Asia-Pasifik. Meski diberi nama bank Asia, namun keanggotaannya terbuka untuk setiap negara di seluruh dunia.
Saat ini ada sekitar 102 anggota dengan China sbg pelopor utama dan Russia berada di posisi ke-3 terkuat di voting power. Banyak negara tergiur utk join karena AIIB benar-benar fokus menggunakan seluruh modalnya khusus utk pembangunan infrastruktur.
Negara-negara di Asia terutama yang menjadi anggota AIIB menganggap bahwa mereka tak bisa cuma mengandalkan pinjaman dari World Bank atau International Monetary Fund (IMF) saja. Karena 2 lembaga ini ternyata juga punya program di berbagai sektor seperti kemiskinan, kesetaraan gender hingga isu lingkungan. Sehingga pendanaan tidak fokus pada pembangunan infrastruktur.
FYI, peran negara kita di AIIB juga cukup tinggi.
Sebagai salah satu Founding Members, Indonesia punya voting power di urutan ke-8, tertinggi di ASEAN. Bahkan punya perwakilan di jabatan senior manager, yaitu sbg Vice President and Chief Administration Officer.
(AIIB Annual Meeting di Luxembourg, Juli 2019)

Di samping hubungan kerja sama di level formal/serius, Putin dan Xi juga bisa dibilang punya hubungan di level casual. Ya, setidaknya yg terlihat dari tangkapan kamera.
Misalnya pas kunjungan Putin ke China di Juni 2018 lalu.
Xi sempat mengajak Putin ke Tianjin setelah mereka menyelesaikan beberapa jadwal acara di Beijing.
"Chinese President Xi and Russian President Putin takes the CRH to Tianjin"
Bincang hangat di dalam kereta super cepat menuju Tianjin.
Nobar pertandingan hockey junior di Tianjin.
"Putin and Xi Jinping learn to make Chinese baozi dumplings"
Sebelum acara jamuan (banquet) kenegaraan, Putin sempat jajal bikin 2 macam snack khas Tianjin, yaitu goubuli baozi (roti isi mirip bakpao) dan jianbingguozi (sejenis pancake). Ya, meskipun bentuknya jadi aneh. 🤣
Di hari yg sama juga, Xi bahkan memberikan Putin award medali the first-ever Friendship Medal of the People's Republic of China di the Great Hall of the People in Beijing.

Xi Jinping juga dapat perlakuan serupa ketika kunjungannya ke Russia.
Salah satu contohnya, yaitu ketika Putin memberikan Russia's highest state award (St. Andrew Order) pada Xi di Grand Kremlin Palace, Moscow, Juli 2017 lalu.
Kunjungan Xi berikutnya, yaitu pada event Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Sept 2018.
Forum ini bertujuan utk memberdayakan perekonomian dan investasi asing di kawasan Far East. Di forum ke-4 thn 2018 lalu menghadirkan 4 kepala negara dari Russia, Jepang, KorSel, dan Mongolia.
Perlu kalian ketahui bahwa pertemuan EEF selalu diadakan tiap tahun. Hanya ada 2 kepala negara, presiden Russia (Putin) dan PM Jepang (Shinzo Abe) yg tak pernah absen sejak 1st Forum di 2015 - 5th di 2019.
I think cukup jelas alasannya karena wilayah Russia di Far East (kepulauan di sekitar Kamchatka dan Sakhalin) sering bersinggungan dengan kepulauan di sekitar Hokkaido milik Jepang.
Meski mereka berdua bertemu tiap tahun, tapi hubungan Putin dan Abe cuma sebatas urusan kenegaraan aja.
Semua makin jelas ketika di sela-sela acara 4th EEF, Putin malah kelihatan lebih asyik jalan bareng Xi Jinping. Bahkan, mereka berdua sempat-sempatnya belajar bikin pancake dan minum vodka bareng.
"Putin and Xi make pancakes"
"The only people that Gordon Ramsay wouldn’t dare to say a word about their food"
Masih di acara yg sama, Putin membawa Xi utk icip-icip produk madu lokal. Sang presiden Russia pun dgn baik hati membelikan beberapa toples madu tsb sebagai hadiah utk Xi.
"‘You will pay back in yuans’ - Sweet gift from Putin to Xi"
Xi sempat bilang, "Makasih, bro, ga perlu repot-repot karena gw lagi ga bawa Ruble, nih."
"Bayarnya pake Yuan aja nanti," balas Putin dgn nada bercanda.

Salah satu puncaknya adalah ketika Xi bertemu Putin di Dushanbe, Tajikistan utk mengikuti event Conference on Interaction and Confidence-Building Measures in Asia (CICA) Juni 2019.
Meski di negara orang, sempat-sempatnya Putin memberikan hadiah spesial utk sohibnya, bahkan surprise ini dilakukan sebelum jadwal acara kenegaraannya dimulai.
Karena hari itu tepat dgn hari ulang tahun Xi yg ke 66 thn.
Putin memberi cukup banyak hadiah:
Kue bertuliskan "66 dan great prosperity", satu box Russian ice cream, dan goblet (piala) karya tradisional Russia yg bernama "Sunny Day".
"Putin Surprises China's Xi Jinping With Box Of Russian Ice Cream & Birthday Cake"
"Pekerjaan kita sangat sibuk dan sangat menuntut kewajiban, bahkan di saat hari ulang tahun juga. I'm happy to have such friend. All the best to you and your family"
Ucapan selamat Putin pada Xi.
Bahkan Putin sempat mengingat kembali penyambutan ulang tahunnya pas di Indonesia 2013 lalu. Saat itu kondisinya udah lebih enak karena perayaan diadakan setelah urusan negara selesai, tapi kali ini malah kita lakukan sebelumnya.
FYI, di Oct 2013 lalu Indonesia menjadi tuan rumah Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) summit di Nusa Dua, Bali.
Saat itu para petinggi negara memberikan selamat ulang tahun pada Putin yg berumur 61 thn.
Sambutan ini dipimpin oleh mantan presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono dengan diiringi genjrengan gitar lagu "Happy Birthday to You". 🥂 😄
Penasaran?
Tonton videonya di bawah ini:
"APEC leaders sing birthday song to Putin on his 61st birthday"
Di awal Juni 2018, Putin sempat bilang saat interview dgn China Media Group kalau Xi adalah satu-satunya petinggi negara yg merayakan ulang tahunnya.
"Saya belum pernah punya hubungan sebaik ini dgn rekan negarawan lainnya. Namun semuanya saya lakukan dgn Xi", jawab Putin.
Menurut Xi Jinping, “Presiden Putin bagi saya adalah sahabat,”
“Kami memutuskan bahwa kami akan meningkatkan hubungan bilateral kami ke tingkat baru yang lebih tinggi, meningkatkan dukungan dan bantuan timbal balik kami, dan mempromosikan hubungan kami di era baru,” katanya, demikian Al Jazeera melaporkan.

Ga cuma baik pada orang nomor satu di China aja, Putin pun sempat tertangkap kamera sedang memberikan selimut syalnya pada China's First Lady aka istrinya Presiden Xi (Peng Liyuan). Saat itu para delegasi sedang menunggu pertunjukkan kembang api di pertemuan APEC di Beijing, Nov 2014.
"When Singles Day, Putin and China's first lady collided"
Nampaknya sang suami melewati momen tsb gegara lagi asyik ngobrol sama Presiden Obama. Ga pake lama, besoknya topik ini langsung meriah di sosmed China. Banjir komentar positif para netizen yg mengapresiasi gesture gentleman sang Presiden Russia.
Jangan maen nyosor aja bang Putin, mentang-mentang udah single sejak tahun lalu (2013) 🤣 🤣 🤣

Kembali ke pertanyaan utama:
"Apakah Russia akan membantu Amerika untuk melawan Tiongkok?"
Tentu saja jawabannya,
Absolutely BIG NOPE
Setidaknya untuk SAAT INI.
Alasannya sudah sangat jelas bukan?
The ties are good.
Good ties are good for business.
Bromance antara kedua negara ini menciptakan simbiosis mutualisme yg akan menjamin keberhasilan proyek-proyek raksasa yg tak pernah ada di sepanjang sejarah dunia modern sebelumnya.
Kesuksesan proyek BRI tentu membangkitkan romantisme kejayaan masa lampau peradaban China di sektor perdagangan, Silk Road (Jalur Sutra). Jika memang proyek ini berjalan lancar dan complete, maka Tirai Bambu akan muncul sebagai the new world superpower hanya dalam beberapa tahun ke depan.
Berkat BRI, ambisi Russia utk menjadi kekuatan baru Eurasia tentu terbuka lebar. Menurut saya akan sangat bodoh sekali jika Russia mengkhianati hubungan baiknya dengan China.
The "hegemonic dominance of the international system"
Musuhan = cita-cita negara runtuh

Film seri dokumenter "The New Silk Road [Road to Russia]" dari Channel News Asia (CNA Singapore) sempat mewawancarai Prof. Sergey Lukonin selaku Director of the Russian Academy of Sciences’ Centre for Chinese Political and Economic Studies.
"Russia and China’s Special Relationship"
Di menit 17:02,
host Anthony Morse mengajukan pertanyaan,
"Why has Russia taken China's side in the trade war?
(Kenapa Russia memihak China di perang dagang?)
Prof. Sergey menjawabnya dengan santai, namun cukup tegas dan jelas,
"Russia tidak pernah memihak China dalam urusan perang dagang antara US dan China."
"Lebih tepatnya Russia memilih di posisi anti-US, dan sudah jelas sekali kalau posisi ini sejalan dengan minat China. Bagi Russia, US telah melanggar peraturan perdagangan internasional dan sangat tidak dibenarkan caranya karena menggunakan instrumen politik ekonomi demi mendorong kepentingan pribadinya."
"Dengan cara pandang tsb, tentu saja Russia mendukung China untuk melawan kebijakan US."

Namun bagaimana pun juga, kita tak akan pernah tahu apa yg akan terjadi di masa depan nanti.
Namanya juga politik, ga ada hitam, ga ada putih. Semuanya serba abu-abu.
Hari ini teman, besok bisa jadi musuh, dan vice versa.
Semua hanya serba kepentingan semata.
Bisa aja salah satu dari 2 negara ini tiba-tiba "banting stir". Who knows, man?!


📢 Republished byYesmuslim.info ] 

Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Jika Terjadi Perang, Apakah Rusia akan membantu Amerika untuk melawan Tiongkok ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya. 🙂

Artikel Terkait Lainnya

Portal Muslim Terupdate !





Back to Top
  PERKEMBANGAN    COVID-19  

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini