Jika Kemungkinan Sembuh dari Virus Corona Adalah 97%, Mengapa Dunia Begitu Panik?


1 komentar | ✍️ Apa Komentar mu ? Tulis komentarmu, klik disini
  Yes    Muslim    - Jika Kemungkinan Sembuh dari Virus Corona Adalah 97%, Mengapa Dunia Begitu Panik?
Dijawab di Quora Indonesia oleh Wirawan Winarto.
Misalnya ada dua jenis virus yang sama-sama cepat membunuh serta cepat menular, yaitu virus X yang punya angka kematian (fatality rate) 98% dan virus Y yang punya angka kematian 2%.
Manakah yang lebih potensial menjadi ancaman global?


Dari sudut pandang kita sebagai individu, virus X terlihat jauh lebih mematikan.
Namun dari sudut pandang global, tidak selalu demikian.
Ketika sebuah virus dengan sangat cepat membunuh 98% host-nya maka hanya ada tersisa 2% pasiennya yang masih bertahan untuk menyebarkan virus tersebut. Tetapi sebaliknya, andaikata virus "hanya" membunuh 2% host-nya, ada potensi untuk 98% penderita sisanya menyebarkan virus ini lebih luas lagi. Sewaktu 98% inang virus tadi berpotensi jadi penular, tentu network effect-nya pun akan menjadi jauh lebih besar sehingga agen-agen virus seperti ini relatif jauh lebih cepat meluas.
Hal ini adalah salah satu alasan mengapa novel coronavirus (COVID-19) mewabah.
Dan seperti yang sudah-sudah, sejarah mencatat hal ini bukan masalah kecil.
Saya bukan ahli medis, jadi saya mau berbicara soal sejarah saja.
Berbarengan dengan berakhirnya Perang Dunia I sekitar seratus tahun silam, Eropa dihantam wabah influenza. Tidak diketahui pasti dari mana asal flu ini, sebab negara Benua Biru ketika itu masih sibuk berperang, sehingga media cenderung tidak rewel meliput peristiwa pandemi yang sedang terjadi. Hampir semuanya sibuk membahas perang besar (The Great War) yang sudah memasuki tahun keempat.
Hampir semua negara. Kecuali Spanyol.
Spanyol tidaklah aktif terlibat di Perang Dunia I. Kala gelombang influenza merebak menyesaki Benua Eropa, media massa Spanyol barangkali adalah sedikit suara yang senantiasa lantang dan paling konstan memberitakan.
Alhasil, wabah influenza ini kemudian dikenal sebagai Flu Spanyol.
Barulah sewaktu Perang Dunia I berakhir sebelas bulan kemudian, masyarakat Eropa menyadari wabah yang sudah ada di depan hidung mereka. Wabah Flu Spanyol tadi tidak hanya melanda Eropa, namun juga cepat meluas hingga Amerika, Asia, hingga Afrika, dan bahkan menjangkau kepulauan-kepulauan kecil di Pasifik.
"Tidak usah khawatir, cukup cuci tangan saja!"







Semenjak pertama kali Flu Spanyol dideteksi pada Januari 1918 hingga penghujung wabah tersebut pada Desember 1920 (hampir tiga tahun), virus ini menjangkiti 27% penduduk dunia pada masa itu atau nyaris 500 juta korban. Pandemi global ini pun menyelimuti dunia, membuat rumah-rumah sakit dibanjiri pasien, ekonomi berhenti berputar, dan kematian terjadi di mana-mana.
Dari data American Journal of Epidemiology, 17 juta orang tewas di pandemi ini.
Coba hitung, berapa angka kematiannya? Hanya 3%.
Benar. Angka kematian 3% bisa menghilangkan 17 juta nyawa jika tidak terkendali.
Dari sini, kita bisa melihat bahwa angka 3% bukanlah sesuatu yang bisa diremehkan begitu saja. Bayangkan 1 pasien Flu Spanyol menularkannya ke 5 orang lalu 5 orang menularkan ke 25 orang, 25 orang menularkan ke 125 orang, dan seterusnya.
Dari 125 pasien tersebut, 4 di antaranya meninggal dunia. Tiga persen.
Maka bayangkan berapa banyak yang harus kehilangan nyawa seandainya virus tadi menyebar ke 1 juta orang atau 10 juta orang?
Cara terbaik tentu saja mencegahnya sebelum wabah serupa menjadi terlalu besar.
Apabila kita mau belajar dari sejarah, Hindia Belanda (Indonesia) adalah satu daerah dengan penanganan pandemi begitu buruk dan angka kematian begitu tinggi pada periode pandemi Flu Spanyol tahun 1918–1920. Baik pemerintah kolonial yang tidak tanggap, rakyat dengan kesadaran kesehatan rendah, fasilitas kesehatan yang parah, hingga media yang terkesan meremehkan keadaan.
Dari total penduduk yang hanya 30 juta di kala itu, angka kematian ditengarai dapat mencapai 1,5 juta jiwa penduduk nusantara. Jauh di atas rata-rata global.
Menurut studi Siddharth Chandra tahun 2013, dalam "Mortality from the Influenza Pandemic of 1918–19 in Indonesia", angka kematian di kepulauan nusantara bahkan mencapai empat kali lipat dari estimasi awal yaitu sekitar 5 juta jiwa. Daerah dengan pandemi buruk seperti Madura kehilangan 23,71% populasi alias 1 dari 4 penduduk Madura tewas gara-gara flu hanya dalam kurun waktu dua tahun.
Namun dikarenakan buruknya pencatatan pada saat itu, tidak diketahui pasti berapa angka kematian sebenarnya, apakah di kisaran 1,5 juta atau mencapai 5 juta jiwa.
Yang jelas, angkanya besar.
Musim Kematian : Pandemi “Flu Spanyol” di Hindia Belanda 1918-1919
Hindia Belanda boleh dibilang terlambat menyadari ancaman Flu Spanyol. Respons masyarakat pada waktu itu cenderung meremehkan. Harian Sinar Hindia menduga Perang Dunia I merusak kualitas udara sehingga membuat banyak orang terserang penyakit flu. Harian Sin Po menuliskan "Ini penjakit sedang hebatnja mengamoek di seantero negeri, sekalipoen tiada begitoe berbahaja seperti kolera atau pes.", Bahkan surat kabar De Sumatra Post sempat menyebut pandemi ini sebagai penjakit rakjat bersifat sementara yang tidak perlu dikhawatirkan.
Agak mirip dengan COVID-19 yang digambarkan media seperti flu biasa, kemudian dibanding-bandingkan dengan pandemi demam berdarah di NTT, atau pemerintah Indonesia yang berusaha meredam kepanikan, serta lebih memilih sibuk mengurusi influencer pariwisata. Respons nenek moyang kita kurang lebih sama.
Tetapi tidak butuh waktu lebih dari beberapa bulan untuk menyadari, bahwa rakyat nusantara telah salah menilai penyakit ini. Pandemi pun merebak dengan cepat dan membunuhi masyarakat, satu demi satu, memasuki pergantian tahun 1918.
Dikisahkan pada waktu itu, rumah-rumah sakit di Sumatera kesusahan menampung penderita flu karena kapasitas yang belum mencukupi. Pada akhir 1918, akses-akses pelabuhan di nusantara telah ditutup pemerintah kolonial guna mencegah pandemi meluas. Bahkan pemerintah kolonial menyebarkan buklet berjudul Lelara Influenza terbitan Balai Pustaka yang bercerita kisah-kisah wayang Jawa untuk menggalakkan kesadaran masyarakat Jawa dalam menjaga kebersihan di tengah meluasnya wabah serta mayat-mayat yang mulai bergelimpangan.
Ketika pandemi global Flu Spanyol ini mewabah, reaksi media-media global kurang lebih mirip dengan reaksi media-media global pada saat ini. Mulai dari rekomendasi menggunakan masker, berita penutupan akses pelabuhan serta stasiun, pembatalan berbagai acara gathering, hingga anjuran minum jamu atau obat herbal.





Hingga kemudian, mereka menyadari bahwa hal tersebut jauh lebih serius daripada masalah yang sebelumnya mereka perkirakan. Bahkan Flu Spanyol membunuh lebih banyak orang daripada Perang Dunia I yang baru saja tuntas.
Nada pemberitaan pun dengan cepat berubah : "We are in deep trouble."






Tiga persen. Angka kematian yang konon "hanya" tiga persen.
Sejarah senantiasa berulang dengan topeng yang berbeda. Apabila kita belajar dari sejarah, sayangnya seringkali tidak, seharusnya kita menyadari perihal ancaman nan mahabesar yang mengintai dan dapat hadir sewaktu-waktu. Seharusnya apabila hal serupa datang lagi, kita sudah jauh lebih siap.
Melihat respon pemerintah selama ini tentu mengecewakan. Menghadapi pandemi global, rasa nasionalisme tidak sepenting rasa internasionalisme, serta sifat defensif tidak sebagus sifat transparan. Di momen-momen seperti ini sepantasnya kita lebih terbuka untuk bekerja sama dan belajar dari negara-negara yang lebih maju, bukan bersikap ultra-defensif atau malah berusaha berburu turis.
Apakah COVID-19 akan jadi Flu Spanyol di generasi ini? Saya tidak tahu. Ahli medis pastinya lebih bisa memberikan penjelasan ilmiah soal itu. Namun sejarah merekam bahwa meremehkan pandemi bisa berakibat fatal.
Di sisi lain, saya juga mencoba untuk positif.
Untuk kali ini, ilmu kedokteran modern tentu sudah jauh lebih maju. Bukan separah seabad yang lalu ketika para pengidap flu dirawat di tenda massal dan banyak yang meninggal dunia di gubuk-gubuk dengan penanganan medis serba minimal. Hal ini tentunya menjadi faktor penting di dalam optimisme menghadapi COVID-19.
Namun terlepas dari semua itu, kewaspadaan selalu diperlukan. Karena apabila kita belajar dari sejarah, bangsa ini kerapkali terlambat menyadari ancaman. Soal angka kematian yang hanya 2% sama sekali bukanlah alasan untuk meremehkan.
Karena kita bukan keledai yang senantiasa terperosok ke lubang yang sama.
Akankah Indonesia Mengulangi Kesalahan Flu Spanyol?
Semoga tidak.
Bagaimana menurutmu? Share pendapatmu di kolom komentar yuk!



📢 Republished byYesmuslim.info ] 

?? Terima Kasih Sudah Membaca ✔️ Jika Kemungkinan Sembuh dari Virus Corona Adalah 97%, Mengapa Dunia Begitu Panik?

1 komentar:

Berkomentarlah yang baik dan sesuai dengan topik 👌,
Terima kasih atas perhatiannya. 🙂

Artikel Terkait Lainnya

Portal Muslim Terupdate !





Back to Top
  PERKEMBANGAN    COVID-19  

Subscribe | Daftarkan Email Kamu disini